​Blue Masjid itu Indah dihiruk-pikuk Pasar

Ini cerita kunjungan para pelancong ke Rawalpindi bersama untuk yang pertama kali. Hari itu, dikala kita berangkat dari rasa nyaman hostel. Suhu dingin ketika itu amatlah hangat dengan kebersamaan. Tentu cuaca hari itu gerimis, tetapi matahari tetap bersahaja dipagi hari dengan musim dingin yang masih mengudara. Namun, memang kesan yang terbaik bukan hanyalah bersahaja. Demikianlah ketika kita menaiki metro bus, mulailah hujan membasahi asap kota dan jalan yang kering. Padatnya jalan, semrawut suara kendaraan menjadi hilang dengan suara hujan jatuh ke kota. Patutlah kita tetap bersyukur setiap detik nikmatNya yang turun. Sungguh menakjubkan karena setelah seluruh pelancong turun di stasiun dekat sebelum saddar, hujan deras bertambah mengguyur dihiruk pikuk kota. Menghimpun berjalan dipinggir trotoar dengan payung terbatas yang sebagian sudah kita siapkan. Ciprat-ciprat air mobil lewat mengenai basah kebagian rok bawah yang kita pakai. Sungguh jika aku bukanlah hamba Allah semenjak lahir, pasti hati ini sangat jengkel ingin mengeluh. Namun, hal nya tidaklah demikian.

Rawalpindi, bukan hanya sebaris nama kota itu yang kita tuju. Namun, didalamnya banyak hal menarik yang kita kunjungi. Kunjungan pertama yang kita tuju ialah Jamia Masjid Wasir Khan atau bisa kita sebut Blue Masjid. Selagi kita berjalan sambil bertanya-tanya pada warga setempat dimana lokasi masjid, ada suatu yang menarik seperti hal nya di Indonesia yaitu Bajaj atau “Riksa” sebutan nama kendaraan unik itu dipakistan. Tukang supir Riksa itu menawarkan tumpangannya, alias nanti bayar diakhir. Namun, terhitung Mahasiswi pada lahiriahnya adalah hemat, akhirnya kita lebih memilih berjalan (hehehe). Jalan Wasir Khan, ialah jawaban dari bapak tua penjual cermin yang kita tanya. Kemudian, kita turuti arahan bapak tua memasuki jalan yang sedang ukurannya sama padat hal nya seperti dijakarta. Sambil menelusuri jalan, becek-becek air coklat menggenang diaspal, sampah-sampah basah berserak karena luapan selokan. Sungguh ini adalah halnya kita berada di pasar, tidak sedikit penjual ikan berdagang dengan gerobaknya, penjual daging yang memangkas setiap bagian tubuh tanpa ragu, sayur-mayur segar tersusun begitu saja diatas gerobak,  penjual jaket-jaket menggantungkan dagangannya diatas-atas atap, dan penjual chapatti yang manis seperti pembelinya, tak ada batas sekalipun diantara penjual dengan penjual lainnya.

Dalam keadaan yang sama, hiruk pikuk pasar pakistan yang menyenangkan membuat kita tidak merasa lelah berjalan. Dalam jarak ±50 meter dari langkah kaki, kubah tinggi berwarna samar seperti birunya langit terlihat melegakan dengan keadaan sekitar yang mempilukan. Energi kembali terisi penuh, lanjut pada akhirnya kita sampai depan konter pulsa. Mengherankan ketika kita melihat kesamping kanan jalan, ada gerbang tinggi kokoh dengan hiasan warna-warni compang-camping sudah lama tak diganti. Akan tetapi, didalamnya ada bangunan Indah mempesona, elok warnanya sama dengan langit pada hari itu. Ialah Jamia Masjid yang kita cari, karena keadaan sekitar sampai tak sadar kita telah sampai. Masjid yang menyajikan panorama dengan hanya satu pintu masuk disebelah Timur dan halaman tengah di depan. Masjid ini memiliki 1 kubah besar lalu dikelilingi kubah-kubah berukuran medium dan beberapa menara kecil. Halaman tengah yang luas dibasahi air hujan, kita berjalan diatasnya tanpa alas kaki. Memasuki kedalam masjid, langit-langitnya luas megah ialah terukir khas pakistan tradisional. Ini adalah salah satu dari beberapa masjid di wilayah Rawalpindi dengan arsitektur Mughal tradisional*. Adapun masjid Indah ini mendendangkan suara panggilan adzan, mengajak penjual sekitar berhenti sejenak meninggalkan urusan dunia yang tiada henti untuk menunaikan sholat dzuhur berjamaah.

Para pelancong pun pamit seusai sholat dzuhur sendiri-sendiri maupun berjamaah, lalu melanjutkan perjalanan ketempat-tempat unik lainnya dengan perasaan puas menyenangkan dihati walau baju belum usai diganti.

Catatan Harianku

Mungkin saya baru sadar, mengapa Alqur’an ini begitu cepat lepas dan hilang dari ingatan ketika sudah dihafal adalah karena ketidakfahaman kita padanya.
Mungkin kita tidak faham, bahwa Alqur’an ini juga adalah makhluk milik Allah dan bagaimanapun Alqur’an pun butuh dimuliakan. Tidak seharusnya setelah hadats kita langsung membacanya tanpa berwudhu. Alquran itu adalah mulia, yang membacanya saja dianjurkan berwudhu untuk menjaga kesucian Kallamullah. Kita banyak mengetahui betapa  mulia kitab petunjuk manusia ini mengarahkan kita ke SyurgaNya tanpa balasan apapun.

Mungkin kita  tidak peka, Alqur’an butuh dimengerti, tidak seenaknya membaca dengan cepat, menabrak lurus tanpa melihat hukum-hukum didalamnya tidak hal nya kita sedang berbalapan. Seperti jalanan saja punya lampu merah, dan kita melakukan tata tertib didalamnya. Adapun Alquran demikian hal nya.

Kita tidak punya akal yang baik, Alqur’an pun butuh kita yakini, apakah kita serius dengannya atau tidak. Dengan muroja’ah satu dua baris, kita sudah merasakan, “aku sudah menunaikan kewajibanku, lanjut ah scroll IG lagi.” Bagaimana hafalan melekat pada ingatan, jika diri kita saja hanyalah menganggap sebatas kewajiban dan menyepelekannya. Padahal Alquran ini adalah KalamuLlah, yang berarti tuhanmu sedang berkomunikasi dengan para hambaNya.

Kita tidak bijak memperlakukannya, Alquran juga butuh keadilan. Baru saja menghafal tidak sampai dengan setengah jam, kita sudah merasa lelah. Barulah kita pasang  headset itu ditelinga lalu memulai play musik sampai pagi, sampai-sampai benar suara musik itu yang akan mengeraskan hati kita. Padahal kita butuh hati yang lembut, agarlah mudah hati ini menangis, tersentuh kalamNya.

Begitulah banyak ketidakadilan kita padanya, seolah kita sudah menjadi belahan jiwa dan mengakui menjadi sahabatnya. Namun, kita tak memperlakuakan seperti layaknya bersahabat dengannya. Wallahua’alam bisshawab

Jalan Terduga

“Ngiiik,” demikian suara pintu terbuka oleh teman sekamar yang baru saja pulang dari lelahnya kuliah. Ternyata baru saja saya tersadar dari lamunan, oh sebaris kalimat yang telah menggores hati dan terbawa oleh perasaan yang sangat mendalam.

Waktu berlalu setelah sekian lama saya berfikir bagaimana mendapatkan penghasilan untuk mengurangi beban orang tua dan kebutuhan-kebutuhan yang saya inginkan demikian seutuhnya tidak ada yang penting! Sibuk memikirkan mendapatkan penghasilan, mendapat uang yang banyak, ingin beli ini beli itu, ingin punya ini punya itu, ingin pergi kesana dan kesini, semuanya ingin didapatkan. Renungan panjang dialami kemudian berlalu berfikir dapat saya memyimpulkan, pada dasarnya sungguhlah keliru adalah ketika saya menggantungkan harta untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, mentawakkali harta sebagai satu-satunya jalan kemudahan mendapatkan segalanya.

Sungguh Allah Mahakaya dan Maha Bijakasana. Dia punya berjuta jalan untuk menaruh rizki yang telah ditetapkan untuk si fulan dan si fulanah. Hebat memang mimpi itu, dahsyat memang ketika mencapai semua itu. Bualan harta ataupun tahta menjadikan lupa setiap nikmat yang dirasakan, ujian pun juga siap tergelar didepan sana. Mereka pasti akan teringat, “Takkan sempurna kekayaan sampai kita memahami bahwa sedikitnya harta adalah ringannya perhitungan diakhirat sana.” Inilah perkataan amat singkat Imam Syafi’i membuat lamunan yang begitu panjang dan mendalam.

Memberikan harta adalah hal yang mudah bagi Allah, kepada hambaNya yang telah ditetapkan. Apa yang kita inginkankan, kenapa kamu ingin menjadi kaya dan mempunyai rumah yang besar saat nanti, semua akan diperhitungkan diakhirat sana, akan menambah waktu lama lagi untuk memperhitungkannya. Semakin banyak harta, semakin lama waktunya. Untuk itu perlu kita menyusun jawaban diyaumul hisab nanti. Menyusun jawaban tidaklah kalah penting dari apa yang kita citakan. Sungguh Allah akan mintai pertanggung jawaban atas perbuatan dan apa yang kita dapatkan, kelalaian setiap manusia amat sangat menakutkan. Dan Jalan yang telah terduga yaitu diakhirat sana. Wallahu a’lam bisshawab